“Tolak Barcode Oleh Dewan Pers, FPPII Minta Komisi I Gelar RDP”

12 Feb 2017

 

 

Dharma_Leksana - Jakarta, Barcode atau Kode Batang/Kode Palang adalah suatu kumpulan data optik yang dibaca mesin. Kode Batang ini mengumpulkan data dalam lebar (garis) dan spasi garis paralel atau simbologi linear atau 1 D (1 dimensi).

 

Barcode juga memiliki bentuk persegi, titik, heksagon dan bentuk geometri lainnya di dalam gambar yang disebut kode matriks atau simbologi 2 D (2 dimensi).

 

Secara historis, penggunaan barcode (kode batang) adalah untuk mengotimatiskan sistem pemeriksaan di swalayan, tugas dimana mereka semua menjadi universal saat ini.

 

Penggunaannya telah menyebar ke berbagai kegunaan lain juga, tugas yang secara umum disebut sebagai Auto ID Data Capture (AIDDC).

 

Fungsi Barcode sebagai Auto ID Data Capture akan dipakai oleh Dewan Pers untuk menverifikasi insan pers agar dapat digolong-golongkan sebagai “Wartawan Legal” dan “Wartawan Illegal”.

 

Wartawan yang sudah di - “barcode” - kan oleh Dewan Pers akan dianggap legal dan dapat privillige (hak istimewa) untuk dilindungi oleh Dewan Pers.

 

Shifting Paradigm in Journalism.

 

Semakin pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan di bidang Tehnologi Informasi, rupanya telah membuat kebingungan stakeholder. Kegagapan tehnologi (Gaptek) terlihat dari cara pemerintah untuk mengambil sikap yang bijaksana terkait dunia jurnalistik.

 

Jurang yang sangat tipis antara Dunia Jurnalis dan Media Sosial nampaknya membuat Pemerintah dan Dewan Pers menjadi gamang. Kegiatan jurnalistik sebagai pers dan kegiatan jurnalistik dalam media sosial dinisbikan dalam sebuah kebijakan diskriminatif dengan Barcode.

Hal senada diungkapkan Anggota DPR RI Komisi I, Tantowi Yahya kepada Wartawan yang tergabung dalam Forum Pers Independent Indonesia (FPII) saat diminta pendapatnya mengenai Verifikasi dan Barcode yang dikeluarkan Dewan Pers.

Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar ini juga menyatakan, ini memang menjadi permasalahan Nasional dalam dunia Jurnalistik.

“Pemasalahan ini harus disikapi dengan serius dan bijak,” katanya di Gedung Nusantara III DPR RI , Jumat (11/02).

Tantowi juga menganggap kebijakan dewan pers tidak objektif dan terkesan membatasi ruang gerak pers yang tidak sesuai UU Pers No. 40 tahun 1999. Bahkan menurutnya, kebijakan yang yang dikeluarkan dewan pers terkait verifikasi dan barcode itu ada asumsi pesanan politik dan bisnis di dalamnya untuk menekan gejolak yang telah menjadi viral dengan sebutan HOAX.

Polemik verifikasi dan tanda Barcode disetiap media, dirasakan para insan pers di Indonesia sangat mengekang kemerdekaan pers.

Dengan sikap tegas, para insan pers sepakat menolak kebijakan yang dikeluarkan dewan pers. Hal ini dibuktikan dengan membentuk Forum yang menjadi langkah awal petisi bersama. Surat petisi untuk Rapat Dengar pendapat (RDP) yang baru dimulai 2 hari ini sudah terdata sedikitnya 126 jurnalis dan 76 media yang mewakili insan pers se Indonesia.

“Kami adalah pekerja pers dan ini adalah profesi kami, tapi kami sangat menyayangkan kebijakan Dewan Pers yang menyalah artikan keberadaan kami yang tidak dianggap.” kata Opan,yang merupakan salah seorang penggagas berdirinya Forum Pers Independent Indonesia (FPII) usai bertemu dengan Anggota DPR RI Komisi I, Tantowi Yahya di Gedung Nusantara III DPR RI, Jumat (11/02).

Untuk itu Forum Pers Independen Indonesia (FPII) meminta komisi I DPR RI segera menggelar RDP yang dihadiri pengurus inti dewan pers dengan Insan Pers (FPII) hingga terbentuk komunikasi sehat guna menyelesaikan konflik nasional yang melibatkan insan pers diseluruh Indonesia, sehingga tidak menimbulkan aspek sosial ekonomi.

Menanggapi Petisi yang diajukan FPII ke DPR RI Komisi I, Anggota Dewan Pers, Ismanto menjelaskan, verifikasi dan code barcode bukan untuk mendiskriminasikan teman-teman wartawan, tapi lebih terfokus pada penataan industri media.

‘ Kalau dibilang kami kurang sosialisi permasalahan verifikasi, itu bukan suatu alasan, karena kami sudah memberikan informasi tersebut setiap tahunnya, ‘ tegas Ismanto.

Dharma L

*Dari berbagai sumber *


TAGS Forum Pers Independen Indonesia


-

Author

I'am only a journalist who recorded every events that I can record.

Follow Me