MEMAKAI GELAR AKADEMIS TANPA HAK DAN IMPLIKASI HUKUMNYA

27 Feb 2017

Jakarta, Pemakaian gelar akademis sudah diatur dalam Pasal 69 UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terkait penggunaan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik,profesi palsu dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan atau denda paling banyak Rp 500 juta.

Namun tampaknya pencantuman Gelar Akademis tanpa hak dalam kehidupan masyarakat sehari hari masih belum tersentuh hukum secara maksimal.

Secara khusus memang hukum tidak melarang atau tidak mengatur sanksi pidana bagi mereka yang menyebutkan/ mencantumkan gelar akademik tanpa hak, terkecuali mereka terbukti menggunakan ijazah palsu maka hal itu jelas merupakan perbuatan melawan hukum dan tentunya dapat dijerat tentang penggunaan ijazah palsu sebagaimana dimaksud dan diatur Pasal 69 UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terkait penggunaan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik,profesi palsu dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan atau denda paling banyak Rp 500 juta.

Namun demikian, mengacu pada Pasal 21 ayat (4) UU No. 20 Tahun 2003 yang menegaskan, “Gelar akademik, profesi, atau vokasi hanya digunakan oleh lulusan dari perguruan tinggi yang dinyatakan berhak memberikan gelar akademik, profesi, atau vokasi”, maka jelas bagi orang yang mencantumkan gelar akademik tanpa hak dan terbukti bukanlah lulusan perguruan tinggi maka orang tersebut dapat digolongkan telah melakukan rangkaian kebohongan dengan menggunakan martabat palsu sehingga menciptakan keadaan palsu yang tentunya dapat merugikan orang lain.

Perbuatan orang tersebut dapat dikategorikan sebagai perbuatan penipuan sebagaimana dimaksud Pasal 378 KUHPidana yang mengatur “Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.”[1]

 

Masalah penerapan hukum yang masih belum tegas benar banyak dimanfaatkan oleh oknum oknum yang hanya mengejar status dengan memajang gelar gelar akademis tanpa hak untuk mengelabui publik. Hal ini dapat terjadi karena orientasi pandangan masyarakat terhadap para penyandang gelar akademis demikian tinggi.

Sesungguhnya, cukup mudah bagi masyarakat untuk dapat melihat perbedaaan dari penyandang Gelar Asli dan yang gadungan. Saya akan memberikan beberapa tips yang dapat digunakan untuk menguji apakah seseorang itu menyandang gelar asli atau palsu.

 

  1. Seorang yang telah menempuh jenjang akademis secara benar yaitu dengan mengikuti aturan aturan dalam menempuh studi baik S-1, S-2 maupun S-3 pasti pernah mempublikasikan karya tulis ilmiahnya entah itu skripsi, Tesis ataupun Disertasinya. Untuk Program Master apalagi Doktor umumnya mereka sudah memiliki publikasi ilmiah minimal di jurnal ilmiah nasional dan ada juga yang mempublikasikannya di jurnal Internasional.

Semua jurnal ini umumnya dapat diakses lewat internet.Jika seseorang mengaku memperoleh gelar doktor dan tidak memiliki publikasi ilmiah satupun, maka patut dicurigai bahwa gelarnya tersebut diperolehnya dengan cara yang tdak lazim. Cara cepat untuk melihat publikasi ilmiah sesorang adalah dengan menggunakan “google scholar”.Gunakan google scholar dan masukkan nama orang lengkap orang yang “dicurigai” tersebut.Jika memang dia memperoleh gelar master ataupun doktor dengan benar minimal ada rekam jejak publikasinya. Google Scholar juga sangatampuh digunakan untuk mendeteksi jabatan akademik Profesor.Pada umumnya seorang guru besar sudah dapat dipastikan pernah mempublikasikan karya ilmiahnya dan harusnya dapat terdeteksi dengan baik di google scholar.

  1. Sebaliknya juga demikian, jika seseorang minder tidak pernah mau ataupun menghindar ketika diajak berbicara tentang gelar nya apalagi gelar master dan doktornya, maka patut dicugai.Pastilah seseorang ada sedikit merasakan kebanggaan dengan gelar yang telah diperolehnya dengan susah payah sekalipun orang tersebut sangat rendah hati tidak mau pamer gelar.[2]

Jika ada orang yang gemar menjejerkan gelarnya secara berlebihan misalnya gelar master dan doktornya sampai lebih dari dua seperti menjemur ikan asin maka patut dipertanyakan.Sebab untuk mendapatkan gelar yang maksimal saja diperlukan waktu yang sangat lama.Sebagai patokan untuk mendapatkan gelar S2, S2 dan S3 diperlukan waktu minimal (4+2+3) = 9 tahun, sedangkan kalau untuk mencapai jabatan akademik Professor diperlukan waktu yang lebih lama lagi karena harus mengumpulkan kredit poin dalam bidang penelitian, pendidikan dan pengabdian kepada Masyarakat. Kalaupun orang tersebut super jenius biasanya satu gelar doktor sudah cukup selebihnya kepandaiannya akan dituangkan dalam karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional. melalui cara ini reputasi ilmiahnya akan diakui oleh dunia internasional. Sebaliknya juga demikian, jika seseorang minder tidak pernah mau ataupun menghindar ketika diajak berbicara tentang gelar nya apalagi gelar master dan doktornya, maka patut dicugai.Pastilah seseorang ada sedikit merasakan kebanggaan dengan gelar yang telah diperolehnya dengan susah payah sekalipun orang tersebut sangat rendah hati tidak mau pamer gelar.

___________________________________________

[1] http://konsultasihukumgratis.blogspot.co.id/2012/03/pencantuman-gelar-akademik-tanpa-hak.html

[2] Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/cara-mudah-mendeteksi-gelar-palsu_55627c18ce7e61a36ccb9153


TAGS komunitas


-

Author

I'am only a journalist who recorded every events that I can record.

Follow Me